▴ZONA INTEGRITAS▴ MIN 1 Belitung Dukung Pengusulan H. AS. Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional 2026

Gambar : Foto Spanduk MIN 1 Belitung Dukung Pengusulan H. AS. Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional 2026
Tanjungpandan (10/2) — Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Belitung menyatakan dukungan terhadap pengusulan H. AS. Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional Tahun 2026. Dukungan tersebut diwujudkan melalui pemasangan spanduk di lingkungan madrasah sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdian tokoh pejuang asal Belitung. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai-nilai nasionalisme serta kecintaan terhadap sejarah perjuangan bangsa kepada para siswa sejak dini. Melalui pengenalan tokoh daerah yang berjasa bagi bangsa, diharapkan para murid dapat meneladani semangat perjuangan, keberanian, dan pengabdian H. AS. Hanandjoeddin.
H. AS. Hanandjoeddin dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang memiliki peran penting dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia lahir pada 5 Agustus 1910 di Tanjung Tikar, Sungai Samak, Badau, Belitung, dari pasangan Djoeddin dan Selamah. Sejak kecil, ia diasuh oleh ayah angkatnya, H. Hasyim, di Aik Sagak, Tanjungpandan. Dikenal cerdas, khususnya di bidang teknik mesin, Hanandjoeddin menempuh pendidikan di Ambacht School (AC) Manggar, sekitar 77 kilometer dari kampung halamannya. Jauh dari keluarga sejak usia muda membentuknya menjadi pribadi mandiri dan bertanggung jawab. Di samping itu, ia juga memperdalam ilmu agama dengan belajar di Madrasah Al Islamiyah Tanjungpandan sembari bekerja sebagai teknisi.
Kariernya terus berkembang ketika pada tahun 1935 ia ditugaskan ke Pulau Bintan sebagai tenaga ahli teknik. Pengalaman dan pendidikannya mengantarkan Hanandjoeddin memasuki dunia militer pada usia 29 tahun sebagai anggota Ozawa Buntai, satuan udara militer Jepang. Puncak pengabdiannya terjadi ketika ia turut membidani terbentuknya Angkatan Udara Republik Indonesia dengan menjabat sebagai Kepala Bagian Teknik Tentara Keamanan Rakyat Oedara (TKRO) di Lanud Bugis, yang menjadi pusat perawatan pesawat militer dan kemanusiaan. Pada masa Agresi Militer Belanda I dan II, ia terjun langsung ke medan gerilya. Atas jasa-jasanya, Presiden Soekarno menganugerahkan kepadanya gelar Akademi Senter (AS).
Setelah pensiun dari militer, H. AS. Hanandjoeddin dipercaya menjabat sebagai Bupati Belitung melalui jalur aklamasi. Ia dikenal dekat dengan masyarakat melalui gaya kepemimpinan yang merakyat, kerap turun langsung ke lapangan, bahkan sering menjadi khatib Jumat. Kedekatannya dengan rakyat membuatnya dijuluki “Pak Long”, gelar kehormatan dalam budaya Melayu bagi sosok yang bijak, dihormati, dan pendapatnya dianggap penting.
Dukungan MIN 1 Belitung ini menjadi wujud nyata partisipasi dunia pendidikan dalam mengapresiasi jasa para pahlawan daerah. Pihak madrasah berharap pengusulan H. AS. Hanandjoeddin sebagai Pahlawan Nasional dapat berjalan lancar serta memperoleh dukungan luas dari berbagai elemen masyarakat, sehingga semangat kepahlawanan dapat terus diwariskan kepada generasi muda sebagai inspirasi untuk berkontribusi positif bagi bangsa dan negara. (Hl)
1.png)




