Lewati ke konten utama
Kembali ke berita
17 Maret 2026 12:48 ngakan 349 views Berita Kemenag

Hening Menuju Nyepi, Umat Hindu Balitung Laksanakan Ritual Penyucian Diri dan Alam

Hening Menuju Nyepi, Umat Hindu Balitung Laksanakan Ritual Penyucian Diri dan Alam
Foto Umat Hindu Balitung Laksanakan Ritual Penyucian Diri dan Alam

Sijuk (17/3) — Umat Hindu di Kabupaten Belitung, khususnya yang bermukim di Dusun Balitung, Desa Pelepak Pute, Kecamatan Sijuk, melaksanakan rangkaian upacara keagamaan dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara Melasti yang digelar di Pura Beji dilanjutkan ke Pura Desa Giri Jati, Selasa (17/3/2026), yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan, tertib, dan sarat makna spiritual.

Sejak pagi hari, umat Hindu mulai berdatangan ke lokasi upacara dengan mengenakan pakaian adat sembahyang bernuansa putih sebagai simbol kesucian. Kaum perempuan membawa berbagai sarana upacara seperti gebogan dan sesajen yang disusun rapi, sementara kaum laki-laki turut mempersiapkan perlengkapan upacara serta menjaga ketertiban selama prosesi berlangsung. Suasana religius begitu terasa di lingkungan pura, diiringi doa-doa dan lantunan mantra suci.

Upacara Melasti dipimpin oleh pemangku, Ida Bagus Putu Anom dibantu pemangku lainnya yang memandu jalannya persembahyangan serta prosesi penyucian. Dalam pelaksanaannya, umat memanjatkan doa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai bentuk permohonan pembersihan diri dari segala kotoran lahir dan batin. Selain itu, Melasti juga dimaknai sebagai upaya menyucikan alam semesta, termasuk lingkungan Dusun Balitung, agar terbebas dari pengaruh negatif dan kembali pada keseimbangan.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Belitung, I Wayan Suta dan Ketua Adat I Made Mandiyasa Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa Melasti merupakan bagian penting dalam rangkaian menyambut Nyepi yang mengandung nilai penyucian diri, introspeksi, dan kebersamaan.

“Melasti bukan sekadar ritual tahunan, tetapi menjadi momentum bagi umat Hindu untuk membersihkan diri, baik secara lahir maupun batin. Melalui prosesi ini, kita diajak untuk menata kembali kehidupan agar lebih selaras dengan ajaran dharma serta memperkuat kebersamaan antarumat,” ujar I Wayan Suta.

Ia juga menambahkan bahwa rangkaian menjelang Nyepi, mulai dari Melasti, Mecaru hingga ogoh-ogoh, memiliki makna mendalam dalam menjaga keseimbangan alam dan kehidupan sosial.

“Nilai yang terkandung dalam setiap tahapan ini sangat penting, yakni bagaimana manusia menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama, dan alam. Inilah yang harus terus kita pelihara dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Setelah pelaksanaan Melasti, kegiatan dilanjutkan dengan upacara Mecaru yang digelar di perempatan jalan yang menjadi titik pusat aktivitas masyarakat Dusun Balitung. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki makna simbolis sebagai pusat pertemuan energi kehidupan masyarakat. Dalam prosesi Mecaru, umat mempersembahkan berbagai jenis sesajen sebagai bentuk penghormatan kepada Bhuta Kala (unsur alam), dengan tujuan menetralisir kekuatan negatif agar tercipta keseimbangan dan keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Prosesi Mecaru berlangsung dengan penuh kekhidmatan, diiringi doa-doa yang dipimpin oleh pemangku. Warga sekitar turut menyaksikan jalannya upacara dengan penuh rasa hormat, mencerminkan tingginya nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama di wilayah tersebut. Kebersamaan dan gotong royong juga terlihat jelas, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.

Rangkaian kegiatan kemudian akan dilanjutkan pada Rabu (18/3/2026) dengan pelaksanaan pawai ogoh-ogoh yang akan diarak mengelilingi Dusun Balitung. Ogoh-ogoh yang dibuat secara swadaya oleh para pemuda setempat menampilkan berbagai bentuk Bhuta Kala dengan karakter yang beragam. Selain sebagai wujud kreativitas seni, ogoh-ogoh juga memiliki makna filosofis sebagai simbol sifat-sifat negatif manusia yang harus dikendalikan dan dinetralisir sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.

Sebagai puncak rangkaian, pada Kamis (19/3/2026), umat Hindu di seluruh dunia, termasuk di Dusun Balitung, akan melaksanakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dengan menjalankan Catur Brata Penyepian, yakni amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan. Suasana hening selama Nyepi menjadi momen refleksi diri, pengendalian diri, serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Melalui rangkaian upacara yang panjang dan penuh makna ini, umat Hindu di Dusun Balitung berharap dapat menyambut Tahun Baru Saka dengan hati yang bersih, damai, serta membawa keberkahan dalam kehidupan ke depan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata pelestarian nilai-nilai tradisi dan budaya Hindu, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Belitung. (Ngakan)

Bagikan Berita

Alat komunikasi

Papan Komunikasi

Pilih kalimat cepat atau tuliskan kebutuhan Anda.

Menulis dan menggambar

Papan Tulis Mini

Gunakan mouse, stylus, atau sentuhan untuk menulis.

Text to speech

Pembaca Teks

Menggunakan suara Bahasa Indonesia yang tersedia pada perangkat.

Bantuan komunikasi

Bantuan Dengar & Transkripsi

Ubah ucapan menjadi teks agar percakapan lebih mudah diikuti. Fitur ini bukan pengganti alat bantu dengar medis.

Hasil transkripsi akan muncul di sini.

Mikrofon belum digunakan.

Unicode Braille

Braille Display

⠞⠑⠅⠎⠀⠃⠗⠁⠊⠇⠇⠑

Konversi Unicode mendukung huruf Latin, angka, dan tanda baca dasar. Dukungan perangkat Braille fisik mengikuti perangkat pengguna.

Desain universal

Informasi Aksesibel

  • Informasi pelayananGunakan bahasa sederhana, struktur yang jelas, dan format yang dapat dibaca.
  • Website dan aplikasiDapat dioperasikan dengan papan ketik dan mendukung pembaca layar.
  • Rambu dan markaGunakan kontras, simbol, dan ukuran teks yang mudah dikenali.
  • Media sosialSertakan teks alternatif, takarir, dan transkripsi bila diperlukan.
  • Layanan pengaduanSediakan pilihan komunikasi tertulis dan bantuan petugas.
Hubungi Petugas Layanan